Cinta Tanah Air

Terkikisnya rasa nasionalisme di kalangan muda dikhawatirkan akan berdampak buruk kepada persatuan dan kesatuan bangsa. Padahal peranan pemuda sangat dibutuhkan untuk membangun bangsa.

Untuk itu perlu pendidikan dan pembinaan karakter bangsa untuk memajukan peradaban bangsa agar menjadi bangsa yang semakin terdepan dengan sumber daya manusia berilmu, berwawasan, dan berkarakter.

Karakter merupakan hal sangat esensial dalam berbangsa dan bernegara, karena hilangnya karakter akan menyebabkan hilangnya generasi penerus bangsa. Karakter harus dibangun dan dibentuk untuk menjadi bangsa yang bermartabat, sehingga menumbuhkan dan memperkuat jati diri bangsa. Menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan membentuk manusia dan masyarakat Indonesia yang berakhlak mulia.

kita sebagai bangsa Indonesia harus selalu mencintai, berkorban dan memelihara persatuan bangsa. juga harus tetap kita jaga.

diwujudkan dalam bentuk melindungi negara dari segala ancaman. Selain itu juga memiliki rasa bangga terhadap Tanah Air.

Dalam Islam kita diajarkan juga untuk mencintai tanah air. Salah satu hal yang dapat kita lakukan adalah dengan menjaga persatuan sesama umatnya dan mau untuk rela berkorban.

Di dalam kitab “al-Tahliyah wa al-Targhîb fî al-Tarbiyah wa al-Tahdzîb” Sayyid Muhammad mendefinisikan tanah air (al-wathan) sebagai tanah di mana kita lahir dan tumbuh berkembang di sana, memanfaatkan tumbuhan dan binatang ternaknya, mencecap air dan udaranya, tinggal di atas tanah dan di bawah kolong langitnya, serta menikmati berbagai hasil bumi dan lautnya sepanjang masa.

Sebagai umat Muslim dan Beda Agama,kita harus turut menjaga dan membela tanah air, agar senantiasa negara kita terbebas dari hal-hal yang dapat memecahkan persatuan dan keutuhan bangsa Indonesia.

Maka sebagai umat muslim Atau Beda Agama, kita harus menjaga tanah air dari segala ancaman dan terhindar dari perpecahan didalamnya. Kita harus menunjukan rasa cinta pada tanah air dan rasa bangga dalam membela negara.

Semoga Bermanfaat.

Ciri Orang yang Dijadikan Tumbal Pesugihan

Ciri Orang yang Dijadikan Tumbal Pesugihan, Awas Anda Wajib Hati Hati! – Ketika orang sudah gelap mata hatinya maka mereka akan melakukan segala cara untuk mendapatkan kekayaan. Termasuk dengan pesugihan hitam yang menggunakan tumbal sebagai gantinya. Nah, jika saat ini marak sedang terjadi pesugihan hitam dengan segala ritualnya maka Anda wajib hati hati.

Apa sih tanda dan ciri orang yang dijadikan tumbal persugihan? Simak ulasan berikut ini dari Master Rizha yang wajib Anda perhatikan. Siapa tahu Anda akan dijadikan tumbal oleh seseorang yang tidak suka dengan Anda!

Ciri Orang yang Dijadikan Tumbal Pesugihan

Pertama, Sering melihat sesosok makhluk halus padahal tidak memiliki kepekaan mata batin

Ketika secara tiba tiba anda menjadi peka pada lingkungan sekitar, sering melihat makhluk halus dan makhluk ghaib tak kasat mata maka hati hatilah. Pasalnya, mereka yang sedang menjadi target Tumbal Persugihan memang sudah diikuti oleh makhluk halus.

Ketika menemui korbannya, makhluk halus ini pasti akan menawarkan kekayaan pada calon korbannya. Untuk membuatnya tergiur dan akhirnya mau ikut dengannya. Namun untuk beberapa kasus, terkadang hanya menampakkan dirinya sekilas saja. Yang lebih berbahaya lagi, makhluk halus tersebut bahkan seperti sedang mengejar atau memburu si calon korban.

Kedua, Mendengar suara dan bisikan aneh

Suara dan bisikan ghaib ini jenisnya beraneka ragam. Calon Tumbal Persugihan bisa jadi mendengar suara lonceng, angklung, gemericik air, bahkan suara bisikan merdu yang memanggil namanya.

Awas, ketika Anda mendengar suara bisikan atau suara apapun yang memanggil nama Anda maka disarankan korban tidak menyahut. Hal ini berbahaya, karena makhluk kiriman tersebut bisa dengan mudah masuk ke dalam tubuh Anda. Mereka juga akan mendengar bisikan ghaib yang meminta mereka mengakhiri hidup atau menyakiti diri sendiri.

Ketiga, Mencium wewangian namun tidak ada sumbernya

Biasanya, orang yang sedang menjadi target atau Tumbal Persugihan biasanya juga akan sering mencium wewangian namun tidak diketahui sumbernya. Dimanapun berada, dia akan mencium aroma wangi yang misterius. Wewangian yang paling sering tercium adalah aroma kemenyan dan juga kembang/ bunga melati.

Keempat, Ketidak nyamanan ketika berada di rumah

Ciri Orang yang Dijadikan tumbal Persugihan selanjutnya adalah merasa tidak nyaman ketika berada di rumahnya. Karena Rumah akan terasa lebih panas dan sering mengalami berbagai masalah teknis.

Mulai dari mati listrik dan kerusakan barang eklektronik lainnya. Bahkan Hewan-hewan aneh dan berbisa juga berdatangan dalam jumlah yang lebih banyak.

Kelima, Ada Sesuatu yang Bergerak dalam Kulit Hingga Sering Kedutan

Orang yang jadi tumbal atau istilahnya menjadi Incaran Pesugihan akan sering mengalami kedutan parah. Bahkan mereka sering merasa ada yang bergerak di bawah permukaan kulitnya.

Si korban akan mengalami tindihan, juga akan mengalami kesulitan untuk tidur di malam hari. Nafasnya terasa sesak atau berat dan tenggorokan sering gatal. Seperti ada sesuatu yang masuk ke dalamnya.

Keenam, Penyakit misterius

Biasanya, orang yang mengalami penyakit misterius adalah orang yang tidak kuar imannya sehingga mudah dijadikan tumbal pesugihan. Mereka, secara tiba tiba akan tiba-tiba menderita penyakit misterius yang tak diketahui sebab atau asalnya. Parahnya, selain itu kondisi finansial mereka juga akan mengalami hambatan secara tiba-tiba.

Demikian 6 Ciri Orang yang Dijadikan Tumbal Persugihan yang dapat kami sampaikan semoga bermanfaat.

The Power Of Money

Although we all use money every day, the nature and functioning of money seem shrouded in commonplace myths and ancient mysteries. Money plays a central role in economics today, yet rarely do we come across a serious, informed discussion of what money really is and what role it plays in the development of society. Money is a remarkable human invention, a mental symbol, a social organization and a means for the application and transfer of social power for accomplishment. This article is the first in a series of articles exploring the origins, nature and functioning of money and its creative power by comparing money with two other pre-eminent social institutions – language and the Internet.

Money, according to the adage, makes the world go round. And just now the world appears to be spinning wildly out of control, escaping from its traditional orbit and raising the specter of a head-on collision with economy, democracy and the welfare of humanity. Concern with the prevailing monetary system has given rise to calls for abolition of the current system of national currencies, a return to the gold standard, elimination of debt money and interest, reversion to local currencies that were prevalent in earlier centuries, and invention of new forms of money such as energy currency or earth currency linked to productive capacities and natural resources. The plethora of ideas floating around suggest that there is widespread discontent and confusion intermixed with a good dose of myth and superstition regarding the origin, nature and role of money in society.

Rather than hastening to contribute one more solution to the mountain that has been proposed, we may do well to first inquire into the fundamental principles on which money is based and the process by which it has evolved with the development of society. This may help us identify the precise points at which the global monetary system has become vitiated and ensure that any changes we propose are in line with humanity’s evolutionary advance.

1. What is Money?

Money, according to economists, is a medium of exchange, store of value, unit of account. To which other social sciences might add, it is a source of status and social prestige, a provider of physical and psychological security, a contributing factor to human welfare and well-being, a basis for military strength, a source of public influence and political power. But these terms merely describe its major functions without really explaining what money is.

Money is an evolving symbol of economic value and social power. Over the past two thousand years, it has undergone numerous changes in form, content and the source of the value it seeks to represent. In early times, money took the form of objects of intrinsic value such as cows, tobacco, furs, grain, and various metals. It later took the form of intrinsically or ornamentally valuable objects such as precious metals, which acquired symbolic value as a representative for many other objects. It was also standardized in the form of coins minted from precious metals, whose value was linked to their metallic content.

The introduction of purely symbolic money as a substitute for material objects marked an important stage in social development. Symbolic money was created based on trust in an issuing institution, such as the receipts issued for grain on deposit in the Pharaoh’s warehouses or gold on deposit with London goldsmiths, and the myriad bank notes issued by literally thousands of American banks during the 19th century.

Originally intended to reflect existing material assets, money also gradually evolved to represent future intention and purchasing capacity. Promissory notes indicating an intention to pay in future became a powerful stimulus to trade in Renaissance Italy. Wooden tallies issued by the British treasury became prevalent around the same time to represent the Treasury’s future tax receipts. The government bonds so prevalent today constituted an essential foundation for the rise of modern nation-states. Ultimately, this led to the issuance of purely fiat currencies, backed only partially by precious metals and anticipated tax revenues. The real backing for national currencies is trust in national institutions of governance supported by the physical assets and productive capacities of the nation issuing them.

The progressive etherealization of money has given rise to endless suspicions, cries of outrage and conspiracy theories, under the assumption that money is, in essence, a physical thing (like the cows and gold nuggets) which has been corrupted and perverted by evil minds. But the etherealization of money has also taken place during the most remarkable period of development in human history and has been associated with a seven-fold rise in real global per capita GDP, so we are advised to seek to fully understand its contribution to human development before condemning and rejecting it wholesale. Closer analysis will show that the growing power of money has always arisen from its symbolic value. Still we are describing only types of money without yet inquiring into what money truly is. We can better understand the power of money by conceiving of it as a purely human creation.

2. Language as a Social Organization

Throughout history, human beings have striven to develop capacities to enhance their power of individual and collective accomplishment. Some capacities are primarily powers of the individual, such as skill in running, climbing, shooting, fire making, cooking.  Other powers, such as language, family and government, can only develop and be expressed in relationship with other people. Money is one of the primary collective powers developed by humanity for social accomplishment. Like language, money is an instrument to promote productive, cooperative human social relationships.

Money is one of the greatest inventions of all time. Like language, money is not a thing in itself but rather a social organization designed to promote and facilitate interaction and interchange between human beings over space and time. Language consists of symbolic sounds and images in the form of words, but those words are meaningless objects until assigned a standardized value by members of the community, so they are commonly accepted to represent the same thing to different people. Language is an arrangement and organization of sounds, signs, letters, figures and words in a sequence according to rules of grammar and diction, standardized forms and established conventions, which facilitate communication of ideas, intentions, feelings, sensations and physical facts.

Language has made possible the evolution of Homo sapiens from merely gregarious social animals through civilization and culture into creative, inventive, thinking, learning human beings governed by values, ideals, ideas, prevailing beliefs, customs, laws and a huge body of facts and knowledge derived from past experience. Language is the foundation and medium for interpersonal relationships, family, community, civilization, culture and all higher human attainments. Language makes possible the preservation of past experience, discovery and accumulated knowledge on which civilization is based; the sharing of experiences, ideas and feelings over vast intervals of time and distances in space; the communication of our deeper emotions on which intimate human relationships are founded; and the formulation of dreams, aspirations and ideals which direct our energies for future progress.

The social organization we refer to as language has endowed humanity with a power for individual and collective accomplishment unimaginable for other species. Language generates power and is a form of power – power for communication, knowledge, relationship, production and exchange, war and negotiated peace, governance, education, scientific and technological development, intellectual inquiry and artistic creativity, recreation and entertainment, romance, religious worship and spiritual enlightenment.

3. Money as Social Organization

Money is also a social organization based on generally accepted symbols, set rules, standardized forms and established conventions. Money too depends on acceptance of common standards for form, unit, value and recording. It is a social organization which includes institutions related to minting, issuing, banking, transmission, accounting, taxation, etc. Though originally assuming the form of objects of intrinsic value, the time is long past since the institution of money evolved more symbolic forms which were easier to transport, store and innovatively adapt to represent non-material forms of value.

As language promotes exchange of ideas, information and intentions, money facilitates the exchange between human beings of goods, services and other things of perceived value. Exchange is the social and economic basis for the evolution of society. Without exchange, each human being must rely solely on his own energies to produce all that he desires or on his capacity to take by force that which is possessed by others. Exchange replaces physical violence and war. It makes possible division of labor, specialization and conversion of one type of good or service into any other type. Exchange is possible without money, just as communication is possible without spoken or written language, but in both cases, they are severely constrained in utility, scope, space, time and effective power without the aid of higher symbolic forms.

The evolution from barter exchange to monetary exchange has resulted in enormous social progress – from isolated rural communities into regions organized around urban centers, city states and eventually kingdoms, nation-states and the emerging global community. The evolution of money has facilitated the growth and development of production, commerce, armies, governments, education, science, technology, urbanization and all forms of art.

4. Evolution of Social Power

When human beings exist at subsistence level, money has little utility, since each person produces just sufficient for self-consumption. At the time of Adam Smith only about 15-20% of production passed through monetarized exchange. Initially, money represented the added value of a commodity when a producer employed his surplus production for trade rather than for self-consumption. As production and trade expanded, money came to represent the power of the society for production and exchange of a wide range of products and services. As society became more complex and integrated, money came to represent the conversion value of one form of social power (productive, political, educational, social, transport, communication, entertainment) into another form. Thus, it evolved into a generalized symbol for all forms of social power and a medium for transfers from one form to another. Production, trade, money, banking, finance, governance, transport, communication, education all form elements of the integrated social organization which is the source of all wealth and power. As recent experience illustrates, the attempt to separate economy or banking from governance shows just how interdependent economy and politics have become. The political power of money in modern democracy is their relationship and interconvertibility.

Society has become a seamlessly integrated whole. All forms of social power contribute to the collective capacity of society to accomplish that underlies the value of money. In the measure that an ordinary bag of grain can now be converted into more education, medical care, entertainment, travel, etc., it has acquired far greater value than the original bag of grain produced by the subsistence farmer in the distant past. Money is a means for multiplying the value of every human attribute and capacity.

5. Internet

A comparison of money and the Internet may more clearly place money in its evolutionary context. The Internet is the first truly global social organization functioning ubiquitously in space and instantaneously in time. It capitalizes on the powers created by all previous organizations, most especially the communication powers of language and exchange power of money, to generate an unlimited power for collective social accomplishment. As an instrument for personal and social communication, it dwarves the power of all the mechanisms previously devised through history from the newspaper to the telephone and television. As an instrument for education, it makes conceivable the delivery of the highest level and quality of education to all human beings in the near future. As an instrument for governance, it makes feasible, if not yet actual, the participation of all citizens in the process of law making. Humanity, which was just a few millennia ago dependent on the beat of the drum for conveying messages quickly through space and rock paintings to record events for posterity, now depends on the Internet, which provides it with the capacity to communicate, exchange and unite as a single social body globally.

6. Sources of Social Power

The extraordinary and unique social power of money arises from multiple sources:”Money fosters the formation of complex, integrated societies by facilitating the exchange of one form of social power into other forms.”

Exchange: Money facilitates exchange, so valueless surplus acquires value. (An isolated French village around 1900 fed its surplus grape production to the pigs since it had no way to exchange grapes for other things of value. A year after a road and bridge connected the village to the nearest town, it began exporting wine. Like roads, money facilitates exchange).

Efficiency: The advantages of money over barter, which requires the double coincidence between buyer and seller, are well documented. As the introduction of Hindu/Arab numerals and double entry book-keeping vastly facilitated the growth of commerce in Italy during the late Middle Ages (imagine trying to multiply and divide with Roman numerals! or to calculate profit from a cash ledger), money vastly facilitated exchange in terms of the variety of products, number of transactions, extended over space and time.

Energy: Money is a catalyst for transactions. Exchange energizes people to take greater effort. It provides an incentive for producers to produce more than they can consume and to also produce things of which they have no need, but, which have value to others.

Trust: By promoting exchange, money fosters cooperative human relationships for mutual benefit, even among those who do not know each other personally. It promotes trust in others. Each successful transaction increases confidence between buyer and seller and augments the propensity for further transactions. Thus, money encourages the extension of trust which is essential for cooperation and expanding human relationships. Initially, trust is personal in someone we know. Personal trust in known individuals is extended to strangers through the medium of money. At a subsequent stage, trust in individuals and transactions grows into trust in the system for exchange and the institutions that facilitate that exchange (middlemen, processors, distributors, warehouses, retailers, financiers, and customers). Human and institutional relationships expand. Society grows more sophisticated and complex. The individual participates in a widening social network and progressively universalizes his capabilities, similar to the way internet expands the reach of each individual human being.

Inter-convertibility:As already discussed, money fosters the formation of complex, integrated societies by facilitating the exchange of one form of social power into other forms. The power to produce crops can ensure protection from famine. The power of a strong military can defend against invasion. Good roads facilitate transportation. Schools and scholars promote advancement of education and knowledge. Political institutions promote effective governance. Each can develop independently, to a certain extent. But in order for society to emerge as a cohesive unit, they need to be integrated. Money makes possible that integration by facilitating inter-convertibility of one form of social power into all other forms.

Society: Ultimately, money comes to represent the overall power of society to achieve its varied goals in all spheres of life. Without money, modern society is inconceivable. Without society, money has no value.

7. Myths about Money

Money is subject to a range of myths and superstitions that pose serious obstacles to its further evolution. Our notion of money as a thing gives credence to the superstition that it must necessarily be scarce in the same way land and precious metals are scarce resources. But understanding money as a social organization, we perceive that it is capable of infinite multiplication, the same way information, knowledge, law, education and other social institutions can and do multiply. As humanity now possesses the capacity to produce sufficient food, clothing, housing, education and medical care to meet the needs of all human beings, it also has the capacity to create sufficient money to ensure effective distribution of those necessities.

The evolution of money is a key to universalizing prosperity through peaceful social evolution. The opening up of commercial relations between China and USA in the 1970s is a dramatic example of the power of money to channel human energies from destructive violence to peaceful cooperation. Today, we live in a world with unprecedented productive capacity. Yet, it is also a world in which precious human, social and productive capacities remain underemployed or unutilized. The problem we face today is not incapacity to meet human needs, but incapacity to fully utilize our productive capacities for the benefit of all humanity. Understanding and attitudes toward money constitute a central part of the problem.

So too, the social status traditionally acquired and still enjoyed by the wealthy also supports the myth that scarcity of money is essential for social welfare, the same way feudal aristocracy believed that limiting status and privilege to a rare few – 10,000 families in 18th century England – was essential for social stability and preservation of culture. The prevailing ideals and values of the 21st century compel us to multiply and distribute the privileges of freedom, equality and social security to all humanity.

The times of scarcity are drawing to an end. Ushering in abundance of freedom, rights, education, wealth and power-sharing will necessitate a breaking of established privileges and entrenched power structures. In the past, this has almost always been accomplished by violent revolution. Today, we have the means to make the transition by peaceful evolution rather than violent revolution. As in the past this process will be driven, not by the permission of the privileged, but by the idealism, aspirations, demands and actions of humanity.”Liberating ourselves from allegiance to outdated attitudes is the essential condition for converting the current crises into evolutionary opportunities.”

Attacks on the prevailing system of money are an encouraging indication of a growing social awareness and aspiration for a more effective and equitable organization of social power. An impartial, objective inquiry into the social origins, power and evolution of money is the right starting place and essential condition for fashioning a better future for humanity.

The problems the world faces today are because human attitudes have not evolved to keep pace with advances in technology and social institutions. Liberating ourselves from allegiance to outdated attitudes is the essential condition for converting the current crises into evolutionary opportunities.

Thank you For Everything Guys,see u Aga

MONEY CAN MAKE YOU HAPPY

They say money can’t make you happy.

But they lie.

Money can drastically influence one’s happiness and satisfaction in life.

Recent Studies have proven that up to a certain threshold, money can buy happiness. It’s not surprising that if someone has enough money to secure a house, to know where the next meal will come from, and to have their basic necessities taken care with a little left over, people will be happier. (See: I Just Want to Be Happy)

Yet beyond a very low threshold, experts agree that money can’t buy happiness. And it can’t. After we have our basic needs covered, buying objects do not influence our satisfaction with life or feeling of happiness.

However, money can still make you happy.

It just requires us to use money in a different way to experience that happiness.

Up to certain levels, we buy things which lead to our happiness. But having the ability to buy more expensive cars, bigger houses, or nicer clothes does not influence our sense of Life Satisfaction.

This doesn’t mean money can’t continue to make us happy. It can.

But it only will if we use money in a different way.

While buying things cannot make us happy, giving money and using money to enable experiences can greatly impact our lives.

Money can make you happy when you:

Give it

or

Do things with it

Thinking money will continue to buy happiness after our basic necessities are secured is foolishness. It won’t. Size of bank account or house or car in no way correlates with someone’s satisfaction with life.

But when someone uses money to give to others or to secure experiences for themselves, money can make one happy.

Giving may be the most counter-intuitive act there is. How can giving something to someone else make us happy? It makes no sense. From the moment we can distinguish having something or not have something, we want things to be ours. Try to convince a small child that sharing a toy is a good idea and they will not believe you.

However, as maturity comes, so does the experience that giving to others can be a deeply meaningful event. Not only does giving bring us happiness because it helps others, but also because it is an antidote to greed. Giving brings a double happiness—we find deep satisfaction in watching others receive what they did not expect and it prevents us from holding to tightly to that which we keep.

If you have money and you don’t give to others, you will be greedy. Few things make us more unhappy than the presence of greed.

Money can also enable experiences. Unlike buying things, whenever we use money to gain access to experiences it often deepens relationships, creates an appreciation for what we have, and makes us feel alive.

Buying things does not have a lasting influence on our lives; making memories does.

Looking back on my life, I can’t remember very many things which I purchased, but I can remember nearly every vacation taken, ballgame enjoyed, and special event experienced. Those memories continue to bring joy even though they have long passed.

Whenever we realize the power of experience in our lives and the lives of our children, it should greatly influence how we spend money. We are tempted to purchase things at the expense of experiences. We should deny the temptation.

Buy a smaller house if it frees up money for season tickets to your favorite team.

Buy a used car if it allows you take a vacation.

Instead of buying a boat, spend the money on multiple trips with your family.

Anytime you have a choice between an object or an experience, buy the experience.

Money can make you happy. It begins by giving us the necessities of life. But it continues as we use it bless others and enjoy one another. Buying things will not make us happy, but giving to others and accessing experiences can bring great joy.

See u Again and Be Succesful.

If you Have Some money For Help Another People can Sent With BNI,accont number 0299976092. Good ble

Apakah Arti Dari Setia?

  1. 1) berpegang teguh (pada janji, pendirian, dsb); patuh; taat
    contoh: ‘bagaimanapun berat tugas yang harus dijalankannya, ia tetap setia melaksanakannya ia tetap setia memenuhi janjinya’
  2. 2) tetap dan teguh hati (dalam persahabatan dan sebagainya)
    contoh: ‘telah sekian lama suaminya merantau, ia tetap setia menunggu’
  3. 3) berpegang teguh (dalam pendirian, janji, dan sebagainya)
    contoh: ‘walau hujan turun dengan lebatnya, ia tetap setia memenuhi janji pergi ke rumah kawannya’

Kata bijak dengen kata: setia

  • Jika cinta bisa membuat seorang perempuan setia pada satu lelaki, kenapa cinta tidak bisa membuat lelaki bertahan dengan satu perempuan? – Asma Nadia
  • Pada hati kau akan tetap setia. Belajar mencari kata se-iya. Belajar mengerti bahwa ingin kita tak selalu sama, dan selalu belajar bagaimana kita mencari keputusan berdua. – Boy Candra
  • Cinta itu adalah perasaan yang mesti ada pada tiap-tiap diri manusia, ia laksana setetes embun yang turun dari langit, bersih dan suci. Cuma tanahnyalah yang berlain-lainan menerimanya. Jika ia jatuh ke tanah yang tandus, tumbuhlah oleh kerana embun itu kedurjanaan, kedustaan, penipu, langkah serong dan lain-lain perkara yang tercela. Tetapi jika ia jatuh kepada tanah yang subur, di sana akan tumbuh kesuciaan hati, keikhlasan, setia budi pekerti yang tinggi dan lain-lain perangai yang terpuji. – Buya Hamka
  • Kecantikan seorang wanita, tidak dilihat dari wajahnya, fisiknya, apalagi dari pakaiannya. Tapi lihatlah dari matanya. Wanita yang sederhana, teguh, berwawasan, setia, mandiri, jujur, berakhlak baik, berprinsip, sungguh menyenangkan melihat bola matanya. Begitu menawan. Begitu membawa kedamaian bahkan walau dengan tampilan yang sangat bersahaja. – Tere Liye
  • Kereta api tidak pernah terbang. Ia selalu setia pada rel yang dipijak. – Asma Nadia
  • Pahlawan yang setia itu berkorban, bukan buat dikenal namanya, tetapi semata-mata membela cita-cita. – Mohammad Hatta

Semoga Artikel ini bermanfaat.Tetap semangat da selalu berdoa Agar Diwujudkan Segala keinginan.

Bila ada Rezeki lebih,bisa kamu Membantu Sesama dengan menyalurkan Bantuan Ke Bank BNI dengan Rek.0299976092

Salam sukses dan Hormat.

5 Cara Berdagang Rasulullah

Dalam Islam, berdagang merupakan profesi yang mulia. Berdagang juga mempermudah datangnya rezeki dari Allah SWT. Selain itu, dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Al Mughni ‘an Hamlil Asfar dan Al Hafizh Al ‘Iroqi, juga mengatakan “Hendaklah kalian berdagang, karena berdagang merupakan sembilan dari sepuluh pintu rezeki.”

Bukan hanya itu, Nabi kita Muhammad SAW juga merupakan seorang pedagang. Beliau memulai bisnisnya sejak berusia 12 tahun. Beliau dikenal sebagai pedagang yang jujur, ramah, dan sukses.

Kesuksesan nabi Muhammad SAW dalam bisnisnya tidak hanya dalam hal materi saja, tetapi juga keberkahan rezeki yang diperoleh serta mampu menjalin tali persaudaraan sesama muslim.

Apakah Anda juga ingin seperti nabi? Berikut 5 cara berdagang Rasulullah yang harus kamu coba:

1. Bisnis Dengan Tenaga dan Kemampuan Sendiri

Bisnis yang dilakukan oleh Rasulullah SAW adalah bisnis dengan ikhtiar (usaha) sendiri, dengan tenaga sendiri, dan dengan keahlian sendiri. Artinya, seorang pebisnis harus punya modal, baik berupa barang, uang, ataupun materi.

Dari Rifa’ah Ibnu Rafi’ bahwa Rasulullah pernah ditanya, “Pekerjaan apakah yang paling baik?” Kemudian beliau bersabda “Pekerjaan seseorang yang dengan tangannya dan setiap jual beli yang jujur” (HR Bazzar).

Hadist ini juga menjelaskan bahwa setiap bisnis yang dilakukan juga harus bersih. Bisnis yang bersih, yakni dijalankan sesuai Syariah Islam.

Seperti apakah bisnis syariah tersebut? Anda bisa membaca artikel sebelumnya mengenai bisnis syariah.

2. Tidak Melakukan Transaksi Gharar

Gharar adalah ketidakjelasan dalam bisnis, baik dari segi harga, barang, waktu dan tempatnya.
Misalnya pedagang A menjual buah-buahan yang belum masak, sehingga belum tentu apakah buah-buahan tersebut nantinya bisa dimakan atau tidak. Namun pedagang tersebut sudah melakukan transaksi jual beli dengan para pembeli.

Dalam sebuah hadist Abu Hurairah ra berkata “Rasulullah SAW melarang jual-beli dengan cara melempar batu dan jual-beli gharar” (HR Muslim).

Selain itu, dalam hadist lain dari Abu Hurairah ra juga berkata “Rasulullah SAW melarang jual-beli anak hewan dalam kandungan dan mani ternak jantan” (HR Bazzar).

Oleh karena itu, gharar merupakan cara jual beli terlarang dan tidak dilakukan oleh nabi.

Dalam Islam, berdagang merupakan profesi yang mulia. Berdagang juga mempermudah datangnya rezeki dari Allah SWT. Selain itu, dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Al Mughni ‘an Hamlil Asfar dan Al Hafizh Al ‘Iroqi, juga mengatakan “Hendaklah kalian berdagang, karena berdagang merupakan sembilan dari sepuluh pintu rezeki.”

Bukan hanya itu, Nabi kita Muhammad SAW juga merupakan seorang pedagang. Beliau memulai bisnisnya sejak berusia 12 tahun. Beliau dikenal sebagai pedagang yang jujur, ramah, dan sukses.

Kesuksesan nabi Muhammad SAW dalam bisnisnya tidak hanya dalam hal materi saja, tetapi juga keberkahan rezeki yang diperoleh serta mampu menjalin tali persaudaraan sesama muslim.

Apakah Anda juga ingin seperti nabi? Berikut 5 cara berdagang Rasulullah yang harus kamu coba:

1. Bisnis Dengan Tenaga dan Kemampuan Sendiri

Bisnis yang dilakukan oleh Rasulullah SAW adalah bisnis dengan ikhtiar (usaha) sendiri, dengan tenaga sendiri, dan dengan keahlian sendiri. Artinya, seorang pebisnis harus punya modal, baik berupa barang, uang, ataupun materi.

Dari Rifa’ah Ibnu Rafi’ bahwa Rasulullah pernah ditanya, “Pekerjaan apakah yang paling baik?” Kemudian beliau bersabda “Pekerjaan seseorang yang dengan tangannya dan setiap jual beli yang jujur” (HR Bazzar).

Hadist ini juga menjelaskan bahwa setiap bisnis yang dilakukan juga harus bersih. Bisnis yang bersih, yakni dijalankan sesuai Syariah Islam.

Seperti apakah bisnis syariah tersebut? Anda bisa membaca artikel sebelumnya mengenai bisnis syariah.

2. Tidak Melakukan Transaksi Gharar

Gharar adalah ketidakjelasan dalam bisnis, baik dari segi harga, barang, waktu dan tempatnya.
Misalnya pedagang A menjual buah-buahan yang belum masak, sehingga belum tentu apakah buah-buahan tersebut nantinya bisa dimakan atau tidak. Namun pedagang tersebut sudah melakukan transaksi jual beli dengan para pembeli.

Dalam sebuah hadist Abu Hurairah ra berkata “Rasulullah SAW melarang jual-beli dengan cara melempar batu dan jual-beli gharar” (HR Muslim).

Selain itu, dalam hadist lain dari Abu Hurairah ra juga berkata “Rasulullah SAW melarang jual-beli anak hewan dalam kandungan dan mani ternak jantan” (HR Bazzar).

Oleh karena itu, gharar merupakan cara jual beli terlarang dan tidak dilakukan oleh nabi.

3. Lemah Lembut Terhadap Pembeli

Cara berdagang Rasulullah yang tidak pernah dilupakan yaitu selalu bersikap lemah lembut terhadap pembeli. Misalnya dalam memberikan pelayan terhadap para pembeli dan memberikan tutur kata yang baik.

Lemah lembut tidak hanya dilakukan saat menjual, namun juga harus diterapkan saat melakukan promosi agar calon pembeli tertarik untuk membeli barang yang kita jual.

Sikap lemah lembut terhadap pembeli juga membuat Rasulullah SAW mampu menjalin tali persaudaraan sesama muslim saat berdagang.

4. Jujur dalam Timbangan dan Takaran

Cara berdagang Rasulullah yang ketiga adalah jujur dalam timbangan dan takaran. Suatu kebiasaan masyarakat pada zaman jahiliyah adalah mengurangi takaran atau timbangan.

Mengurangi takaran atau timbangan sama halnya dengan mencuri, tentunya hal ini merupakan perbuatan yang dapat menimbulkan dosa dan tidak sahnya jual beli. Allah juga memerintahkan setiap pedagang untuk menyempurnakan timbangan.

Dalam surat Al-Isra ayat ke 35 disebutkan bahwa “Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar dan timbanglah dengan timbangan yang benar. Itulah yang lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”.

Namun, melebihi timbangan dengan tujuan agar sang pembeli senang adalah suatu hal yang sangat dianjurkan.

Dari Siwaid bin Qais berkata, “Aku dan makhrafah Al-Abady pernah mengimpor pakaian dari tanah Hajar”, kemudian kami bawa ke Mekah. Lantas Rasulullah datang menghampiri kami sambil berjalan. Kemudian kami tawarkan beliau celana dan beliau membelinya. Dan pada waktu itu, ada seorang yang sedang menimbang, Rasulullah kemudian bersabda : “Timbanglah, dan lebihkan”.

5. Tidak Melakukan Transaksi Riba

Dalam agama Islam, riba adalah hal yang diharamkan. Riba adalah pemberlakuan bunga atau penambahan jumlah pinjaman saat pengembalian berdasarkan persentase tertentu dari jumlah pinjaman pokok yang dibebankan kepada peminjam.

Misalnya ketika Anda meminjam uang dari bank konvensional, maka Anda akan dikenakan “bunga” setiap kali membayar angsuran pinjaman. Bunga tersebut disebut dengan transaksi riba.

Dalam sebuah hadist Jabir ra berkata, “Rasulullah SAW melaknat pemakan riba, pemberi riba, penulisnya, dan dua orang saksinya, dan sesungguhnya mereka itu sama” (HR Muslim).

Hadist di atas menegaskan larangan melakukan riba, baik dalam jual beli maupun hutang piutang.

Riba dalam hutang piutang terjadi ketika ada pinjaman bersyarat yang memberikan manfaat bagi pemberi pinjaman.

Misalnya si A meminjam uang sebesar Rp50.000 kepada si B dengan syarat adanya tambahan bunga sebesar 5% setelah melunasi hutangnya. Nah, yang dimaksud riba adalah uang tambahan sebesar 5% tersebut.

Sedangkan riba dalam jual beli terjadi ketika ada pertukaran barang ribawi (barang yang mengandung unsur riba), dimana barang tersebut tidak senilai, tidak setara dan tidak kontan.

Misalnya si A membeli motor kepada si B secara kredit. Nah, jika dalam kesepakatan harus lunas dalam waktu 3 tahun pengangsuran dan ternyata si A tidak mampu melunasinya maka si B menetapkan perpanjangan kredit dengan aturan akan dikenai denda 5%.

Maka dari itu, saat menjalankan sebuah bisnis, hindari adanya unsur riba dalam bisnis Anda.

Semoga Bermanfaat dan sukses selalu buat anda.Jangan lupa Bersedekah dan saling membantu.

Mari ulurkan Tangan Dengan Menyalurkan Bantuan Anda Kerekening Bni,nomor rekening 0299976092, agar kita terus mendapat berkah.

Ingin sukses berdagang?Ini cara Sukses Usaha Dagang Bagi Pemula

Apakah Anda ingin sukses berdagang? Jawabannya pasti iya. Semua orang pasti ingin sukses dalam menjalankan bisnis dagang.

Berkaca dari perkembangan zaman sekarang ini, ternyata begitu banyak peluang usaha baru yang terus terbuka. Jadi, tidak ada kata terlambat, semakin cepat kita mengambil peluang maka semakin baik.

Dan nyatanya…

Peluang itu tetap ada sampai kapan pun. Tugas kita sebagai entrepreneur adalah menemukan peluang tersebut.

Sebagai seorang pedagang, harus memiliki pola pikir sukses, selalu fokus pada strategi dagang, selalu membuka telinga untuk mendengar informasi dan selalu bekerja cerdas.

Nah agar lebih mudah, berikut ini ada beberapa kiat dagang yang sukses

1. Menjaga nama baik

Menjaga nama baik memiliki peranan yang sangat penting. Nama baik sangat erat kaitannya dengan reputasi nama brand Anda di mata pelanggan.

Menjaga nama baik harus dilakukan sejak awal menjalankan bisnis dagang Anda. Karena hal ini akan memberikan dampak yang luar biasa pada perkembangan bisnis Anda dimasa yang akan datang.

Menjaga nama baik memang bukan pekerjaan yang mudah. Akan tetapi kita bisa mewujudkan hal tersebut dengan berbagai cara seperti:

  • menjaga kualitas produk
  • Ramah dalam pelayanan
  • Tepat waktu ketika menyelesaikan orderan
  • Jujur
  • dan lain sebagainya.

2. Harga yang bersahabat

Banyak sekali pedagang pemula yang salah ketika memulai usaha dagang mereka. Mereka ingin memperoleh untung besar dengan harga yang mahal.

Padahal cara tersebut kurang dianjurkan.

Jika kita masih pemula dalam berdagang, usahakan harga yang ditawarkan merupakan harga yang bersahabat, yang penting masih memberikan keuntungan.

Utamakan kenalan untuk memperluas mitra terlebih dahulu. Cara ini sangat efektif untuk memperbesar skala penjualan dimasa yang akan datang.

Lalu bagaimana jika modal yang ada tidak terlalu besar?

Bagi Anda yang memulai usaha dagang dengan modal sendiri dan tidak terlalu besar harus bersabar terlebih dahulu di tahap awal. Nah agar keuntungan terus meningkat maka kita perlu memperbanyak pelanggan atau mitra.

Tahukah Anda bahwa peluang selalu muncul dari mitra mitra yang Anda kenal?

Dari mitra  biasanya selalu muncul peluang baru, biasanya terbentuk kerja sama dagang yang luar biasa besar. Asalkan kita tahu bagaimana cara membangun komunikasi yang baik.

3. Mulai dari yang sederhana pada orang di sekitar kita

Sebagai pemula tentu tidak langsung berdagang ekspor impor. Anda bisa memulai usaha dagang pada orang terdekat disekitar lokasi Anda. Selanjutnya setelah pengalaman dan kenalan bertambah, Anda bisa merambah ke luar daerah hingga antar provinsi.

Proses ini tentu tidak langsung jadi, perlu pengalaman dan kenalan, perlu teknik khusus dalam membuat perjanjian dagang dan lain sebagainya.

Untuk itu pada tahap awal, Anda dapat mencoba usaha dagang di lingkungan sekitar saja terlebih dahulu sambil mencari informasi dagang luar daerah.

Cara ini cukup efektif untuk melatih mental dan melatih kemampuan komunikasi. Sama seperti latihan olah raga, semakin sering Anda latihan maka otot Anda akan semakin kuat pula.

4. Menguasai Pasar

Seperti yang telah dijelaskan pada poin pertama diatas. Agar mampu menguasai pasar, Anda harus memiliki reputasi yang baik atau memiliki nama baik terlebih dahulu.

Menguasai pasar artinya Anda mampu menjadi orang yang dipercaya untuk memasok barang dagangan kepada para pedagang lain. Hal ini terbukti cara sukses para pedagang yang ada sekarang ini.

Modal besar memang menjadi peranan penting, tapi dengan adanya nama baik, Anda dapat membuat beberapa perjanjian untuk melaksanakan proses dagang skala besar. Bahkan tak jarang para pedagang dapat melakukan transaksi dagang tanpa modal besar pada suatu produk. Karena mereka dipercaya oleh para suplier.

Itulah alasan yang paling kuat mengapa menjaga nama baik itu penting. Hal ini sudah dijelaskan pada poin pertama diatas tadi.

5. Merubah pembeli menjadi mesin promosi

Anda tentu bisa langsung mengerti maksud dari poin nomor 4 ini. Yaitu menjadi pelanggan Anda sebagai agen promosi.

Cara ini cukup efektif untuk menjadikan usaha dagang Anda berkembang dengan pesat. Anda dapat menerapkan beberapa strategi ketika ingin merubah pelanggan menjadi agen promosi. Strategi seperti memberikan persentase keuntungan ketika mereka mampu meraih pelanggan baru, memberikan bonus bagi mereka  yang setia membeli, memberikan pelayanan ekstra dan lain sebagainya.

Semakin banyak orang  yang mempromosikan produk Anda itu lebih baik. Jangan pernah takut berbagi keuntungan, semakin besar skala dagang Anda, semakin besar pula keuntungan Anda.

Prinsip pedagang sukses adalah memperbanyak mitra kerja. Tak percaya, coba Anda perhatikan para pedagang dari tirai bambu, mereka lebih mengutamakan kuantitas dan mitra. Cara ini patut ditiru agar kita juga mampu bersaing dengan para pedagang sukses tersebut.

6. Bekerja cerdas

Para pedagang yang sukses bukan hanya bekerja keras tapi mereka juga bekerja cerdas. Kerja cerdas artinya bekerja memanfaatkan akal dan ilmu pengetahuan.

Selain itu, orang yang bekerja cerdas adalah orang yang pandai memperhitungkan resiko, cepat memanfaatkan peluang dan mampu menggunakan kemampuan tersebut untuk mencapai keuntungan yang diinginkan.

Tidak ada kata mengeluh dalam kamus para pekerja cerdas, yang ada pada pikiran mereka adalah menemukan solusi, solusi dan solusi.

Ketika fokus memilih untuk pada solusi, maka akan ada banyak sekali solusi cerdas yang akan ditemukan. Jadi, luaskan wawasan Anda dan belajarlah dari orang yang tepat, yaitu orang yang sudah terbukti berhasil di bidang perdagangan.

7. Meningkatkan investasi

Selain meningkatkan jumlah mitra bisnis, pedagang yang sukses juga meningkatkan investasi. Seperti para pedagang dari tiong hoa, mereka merupakan para pedagang yang sangat hobi memperbanyak investasi.

Para pedagang sukses tidak akan merasa bangga dengan untung yang telah mereka peroleh, tapi mereka akan terus menambah investasi mereka pada dagangan mereka.

Pengertian investasi itu sangat luas, bukan hanya dibidang materi saja, bidang wawasan, ilmu pengetahuan, mitra, kemampuan diri juga ternyata merupakan investasi yang bisa Anda tingkatkan secara terus menerus.

Dengan cara tersebut, usaha dagang Anda akan terus tumbuh secara terus menerus. Silahkan Anda perhatikan para pedagang sukses, bagaimana mereka melakukan investasi. Lalu segera praktek pada bisnis Anda.

8. Kreasi dan inovasi

Agar berbeda dari para pesaing Anda, coba lakukan perubahan dengan cara inovasi di berbagai bidang. Anda dapat membuat berbagai perubahan unik yang membedakan Anda dan pesaing Anda. Cara ini cukup efektif untuk memenangkan persaingan.

Konsumen lebih tertarik pada pedagang yang memberikan kemudahan lebih dibanding pedagang lain. Itulah alasan mengapa inovasi begitu penting untuk selalu diterapkan pada bisnis dagangan Anda.

Jika bicara soal inovasi pengertiannya juga luas, karena kita tahu bahwa inovasi dapat diterapkan di berbagai aspek. Untuk menemukan ide inovasi, silahkan lakukan analisa terlebih dahulu, buat catatan secara rinci strategi yang ingin Anda raih, lalu tulis solusi apa yang bisa ditemukan untuk melakukan inovasi.

semoga bermanfaat buat anda dan sukses selalu.

Jangan lupa Sisihkan dana Anda buat beramal disekitar kita

Bank Bni, Nomor rekening 0299976092